Marco Kartodikromo: Jejak Radikalisme dalam Gerakan Nasionalis

Di masa Orde Baru sejarah ditulis ulang untuk membuang unsur-unsur yang tidak sesuai dengan pandangan dan sikap rezim. Gerakan nasionalis misalnya dibersihkan dari unsur radikal dan anti-kolonialnya dan disebut sebagai ‘pergerakan nasional’ yang seolah melintasi batas ideologi dan organisasi demi persatuan dan kesatuan.

Pergerakan nasional kemudian identik dengan elemen moderat atau malah konservatif dari periode itu yang mengagungkan, jika bukan memberhalakan, persatuan dan kesatuan di atas segalanya, tanpa membicarakan transformasi sosial dan perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme. Dalam hal ini Orde Baru sama dan sebangun dengan penguasa kolonial yang juga ingin menyingkirkan elemen radikal sambil merangkul dan bahkan mendukung elemen konservatif yang tidak akan menyinggung kepentingan mereka.

Jika di masa lalu penguasa kolonial menyekap para tokoh dan melarang organisasi mereka berkiprah di panggung politik, maka Orde Baru berpuluh tahun kemudian secara sistematis menyingkirkan para tokoh dan organisasi radikal ini dari panggung sejarah.

Hubungan antara kontrol penguasa terhadap realitas politik dan distorsi dalam penulisan sejarah paling baik digambarkan dalam karya Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca. Di situ ia menggambarkan bagaimana Jacques Pangemanann, seorang pribumi berpendidikan Eropa (berusaha) mengontrol jalannya pergerakan nasional dengan membaca arsip dan menyusun laporan yang akan dipakai oleh Gubernur Jenderal dan pejabat di bawahnya, khususnya Penasehat Urusan Bumiputera, untuk mengambil tindakan. Adalah Pramoedya juga yang pertama mencatat hubungan paternal antara para tokoh pergerakan dengan para ‘pembimbing’ mereka di lingkungan birokrasi kolonial. Hal ini saya kira penting untuk ditekankan mengingat narasi sejarah yang ada sekarang ini belum sepenuhnya bebas dari ‘historiografi rumah kaca’. Banyak dari kita masih memahami sejarah melalui kacamata kolonial (dan Orde Baru) dan karena itu gagal menjadikan pengetahuan sejarah sebagai senjata pergerakan.

 

selengkapnya unduh makalah


Share to Facebook Share to Twitter Share to Google Plus