Konsep Pendidikan Ki Hajar

Suwardi Suryaningrat atau Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta, 2 Mei 1889. Ia seorang akivis pergerakan Indonesia, kolumnis, dan pelopor pendidikan bagi kaum pribumi pada zaman penjajahan Belanda. Ia juga pendiri Perguruan Taman Siswa, lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi pribumi jelata untuk memperoleh hak belajar seperti layaknya kaum priyayi dan orang-orang Belanda pada saat itu.

Pada Selasa, 24 Oktober 2017, Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) kembali menggelar diskusi tentang pemikirannya. Hadir sebagai pembicara, Doni Koesoema, seorang pegiat pendidikan yang aktif menulis buku dan artikel-artikel di berbagai media massa.

Doni menjelaskan, sebagai wujud terima kasih negara kepada Ki Hajar, tanggal kelahirannya sekarang diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Lalu bagian semboyan yang pernah diciptakannya, “tut wuri handayani”, menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia. Hal ini dilakukan karena peran besarnya dalam menggagas cikal bakal terbentuknya sistem pendidikan pertama di Indonesia.

Ki Hajar Dewantara memulai karier perjuangan melalui lapangan jurnalistik, sebagai alat untuk memberikan pendidikan politik kepada rakyat. Tulisan-tulisannya banyak berisi tentang cita-cita perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. Gaya penulisannya pun cenderung tajam dan mencerminkan semangat antikolonial. Salah satu tulisannya yang cukup fenomenal ialah “Als ik een Nederlander was...” (“Kalau saya seorang Belanda...”).

Tulisan itu dimuat surat kabar De Express pada 13 juni 1913. Tulisan tersebut sangat tajam mengkritik dan menyindir kolonialis Belanda. Pasalnya KHD banyak melihat ketimpangan dan ketidakadilan yang jelas sangat merugikan banyak warga pribumi saat itu.

Hal tersebut mengakibatkan Ki Hajar Dewantara ditangkap dan kemudian diasingkan ke pulau Bangka, di mana pengasingannya atas permintaannya sendiri. Namun pengasingannya mendapat protes dari rekan-rekan organisasinya yaitu Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangunkusumo yang kini ketiganya dikenal dengan sebutan Tiga Serangkai.

“Bangsa ini perlu mewarisi buah pemikiran Ki Hajar Dewantara. Dalam pandangannya, tujuan pendidikan adalah memajukan bangsa secara keseluruhan tanpa membeda-bedakan agama, etnis, suku, budaya, adat, kebiasaan, status ekonomi, status sosial serta didasarkan  kepada nilai-nilai kemerdekaan yang asasi,” kata Doni.

Dasar-dasar pendidikan Barat dirasakan Ki Hajar tidak tepat dan tidak cocok untuk mendidik generasi muda Indonesia. Sebab, pendidikan Barat bersifat regering, tucht, orde (perintah, hukuman, dan ketertiban).

“Karakter pendidikan seperti ini dalam praktiknya merupakan perampasan dan pemerkosaan kehidupan batin anak-anak. Akibatnya, anak-anak rusak budi pekertinya karena selalu hidup dalam tekanan/paksaan,” lanjut Doni.

Ki Hajar Dewantara berpendapat bahwa pendidikan adalah usaha untuk memajukan tumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran (intelek) dan tubuh anak, dalam rangka kesempurnaan hidup dan keselarasan dunianya. Dengan kata lain, pendidikan dalam membentuk manusia yang berakhlak, berpikiran (pintar, cerdas) dan berbadan sehat.

Doni menjelaskan bahwa ada tiga fatwa yang dikedepankan oleh Ki Hajar dalam pengajarannya, yakni: tetep, antep dan mantep; ngandel, kandel, kendel dan bandel; dan neng, ning, nung dan nang. Pertama, tetep, antep, mantep artinya bahwa pendidikan itu harus membentuk ketetapan pikiran dan batin, menjamin keyakinan diri  dan membentuk kemantapan dalam perinsip hidup.

Kedua, ngandel, kandel, kendel dan bandel. Ngandel adalah istilah dalam bahasa jawa yang artinya “pendirian tegak”. Pendidikan itu harus menghantar orang pada kondisi yang ngandel (berpendirian  tegak/ teguh). Orang yang berpendirian tegak adalah yang berprinsip dalam hidup. Kandel adalah istilah yang menunjukkan keberanian, dengan harapan pendidikan akan mampu menjadikan seseorang menjadi  pribadi yang berani dan kesatria.

Sementara istilah bandel adalah yang “tahan uji” segala cobaan hidup dalam segala situasi dihadapinya dengan sikap tawakal, tidak lekas ketakutan dan hilang nyali. Ketiga, neng, ning, nung, nang berarti bahwa pendidikan pada tataran terdalam bercorak religius.

Pendidikan menciptakan kesenangan perasaan (neng), keheningan (ning), ketenangan (nang), dan renungan (nung). Dalam dan melalui pendidikan, seseorang bisa mengalami kesucian pikiran dan ketenangan batin.

Menurut Ki Hajar, metode pendidikan yag cocok dengan karakter dan budaya orang Indonesia tidak memakai syarat paksaan. Sebab, orang Indonesia termasuk ke dalam bangsa Timur. Yaitu bangsa yang hidup dalam khazanah nilai-nilai tradisonal berupa kehalusan rasa, hidup dalam kasih sayang, cinta akan kedamaian, ketertiban, kejujuran dan sopan dalam tutur kata dan tindakan.

Lalu, berangkat dari nilai-nilai tradisonal itulah Ki Hajar yakin bahwa pendidikan yang khas Indonesia haruslah berdasarkan citra nilai Indonesia itu juga. Maka, ia menerapkan tiga semboyan pendidikan yang menunjukkan kekhasan Indonesia. Tiga semboyan tersebut ialah: Ing Ngarsa Sung Tuladha, artinya seorang guru adalah pendidik yang harus memberi teladan. Ia pantas diugu dan ditiiru dalam perkataan dan perbuatan.

Kedua, Ing Madya Mangun Karsa, artinya seorang guru  adalah pendidik yang selalu berada di tengah-tengah para muridnya dan terus-menerus membangun semangat dan ide-ide mereka untuk berkarya. Lalu yang ketiga, Tut Wuri Handayani, artinya seorang guru adalah pendidik yang terus-menerus menuntun, menopang, menunjukkan dan memberdayakan arah yang benar bagi hidup dan karya anak-anak didiknya.

“Kebodohan menimbulkan ketidakadilan, ketidakadilan menimbulkan kemiskinan, dan kemiskinan menimbulkan kesengsaraan,” kata Doni, “dan pendidikan itu sendiri ialah memanusiakan manusia, dengan cara mengasuh anak-anak untuk bertumbuh dan berkembang dalam potensi-poensi diri (kognisi, afeksi, psikomotorik, konatif, kehidupan sosial dan spiritual.”

Share to Facebook Share to Twitter Share to Google Plus