Menalar Pemikiran Cipto

Cipto Mangunkusumo adalah salah satu tokoh penting dalam sejarah pergerakan Indonesia. Ia merupakan salah satu pelopor Nasionalisme Hindia. Takashi Shiraishi mencatat bahwa Cipto menekankan pentingnya memperjuangkan Nasionalisme Hindia dalam perdebatannya dengan Soetatmo Soeriokoesoemo.

Karena itu, Megawati Instittute kembali menggelar pembahasannya di Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa pada Selasa, 31 Oktober 2017. Hadir sebagai pembicara, AG. Eka Wenats Wuryanta, dengan tema “Nalar dan Rasa Cipto Mangunkusumo untuk Pergerakan Indonesia”.

Eka menerangkan, sosok Cipto dikenal sebagai orang yang welas asih terhadap rakyat miskin, pemberani, progresif dan antibudaya feodal. Bahkan, ia bisa menjadi pemberang dan pemarah terhadap mereka yang profeodal dan prokolonial.

Cipto menilai, feodalisme adalah sebuah bentuk penjajahan terhadap rakyat dan pada taraf tertentu sangat hegemonik. Salah satu kenakalan (kritis) Cipto pernah ia tunjukkan ketika ia menggunakan delman untuk mengelilingi alun-alun Surakarta. Di mana tempat tersebut melambangkan kerajaan Mataram, hanya kalangan sultan kerajaan saja yang diperbolehkan berada disana, dan melarang kaum kelas bawah untuk berada di dalamnya.

Namun, Cipto berpendapat bahwa rakyat kecil pun mempunyai hak tidak jauh berbeda dari raja, dan Cipto berjalan menggunakan delman di dalam alun-alun tersebut. Pernah pula ia memerankan drama Ki Ageng Mangir, yang kisahnya bercerita tentang pemberontakan Mangir penembahan senopati di Mataram.

“Ia berpentas di hadapan pemerintah Hindia Belanda. Drama tersebut mengandung nilai kritikan keras untuk pemerintah kolonial pada saat itu,” kata Eka.

Pembangkangan Cipto memang terlihat sejak kecil, tapi ia mulai memanifestasikannya ketika dia menjadi seorang dokter, gelar yang didapatkannya setelah mendapat ijazah sekolah STOVIA (kedokteran) di Jakarta.

Dalam penilaian Cipto, sebenarnya masyarakat dijajah dua kali pada saat itu. Pertama oleh Belanda melalui tanam paksa atau sistem kultivasi, lalu yang kedua oleh bangsanya sendiri melalui kasta yang belaku. Maka Cipto berpendapat bahwa corak feodal harus dibersihkan terlebih dahulu untuk menumbuhkan kesamaan hak dalam bermasyarakat.

Eka melanjutkan, Cipto pernah mendapatkan penghargaan yang dianugerahkan pemerintah Hindia Belanda dengan bintang Orde Van Orange Nassau. Penghargaan ini diberikan kepada Cipto karena dia telah berjasa dalam memberantas wabah Pes yang berjangkit di daerah Malang.

“Pes merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh basil yang ditularkan tikus. Karena sifatnya yang menular tersebut, banyak dokter-dokter Belanda yang tidak bersedia ditugaskan untuk membasmi wabah tersebut. Kegemilangannya membasmi wabah tersebut membuat namanya tersohor,” katanya.

Namun, bintang jasa tersebut tidak membuatnya bangga bahkan dikembalikan oleh Cipto pada pemerintah Hindia Belanda dan dianggap tidak berguna, ketika ia tidak diperkenankan untuk mengobati rakyatnya ketika terkena wabah Pes di Solo dengan alasan perbedaan kasta.

Setidaknya ada tiga ideologi besar yang tampil menjadi kekuatan gerakan menentang eksistensi imperialisme pada zaman Cipto. Ketiganya adalah Pan-Islamisme, Komunisme, dan Nasionalisme. Dalam konteks ini, alih-alih cenderung pada Islam apalagi Komunisme, Cipto justu tampil sebagai seorang Nasionalis yang berpolitik dalam pergerakan untuk Nasionalisme Hindia.

Menurut Eka, Cipto mempunyai kecenderungan terhadap pergerakan Nasionalisme Indonesia karena ia menilai Nasionalisme terbukti kesaktiannya dalam mengikat ragam kelompok sosial di tanah air. Daya ikatnya lebih kuat dan mencuat ketimbang Pan-Islamnisme apalagi Komunisme. Cipto mencoba mengatakan bahwa Indonesia dapat bersatu tidak cukup dengan menggunakan sentimen keagamaan.

“Sebenarnya dalam konteks ini Cipto ingin mengkritisi kebijakan pemerintah Belanda yang tidak memihak pada rakyat, dan lambat laun banyak melenceng dari sistem politik etis. Bersama Douwes Dekker dan Soeryadi Soeryaningrat, ia berusaha mewujudkan Indische Partij, sebuah partai politik pertama di Hindia Belanda (25 Desember 1912), untuk menggiring kebijakan pemerintah agar memihak kepada rakyat kecil,” kata Eka.

Share to Facebook Share to Twitter Share to Google Plus