Menelusuri Jejak Langkah Tan Malaka

Pada Kamis, 2 November 2017, Megawati Institute kembali menggelar kelas Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) di Jalan Proklamasi No.53, Menteng, Jakarta Pusat. Pertemuan kali ini membahas pergerakan tokoh pahlawan Indonesia yang fenomenal dan cukup misterius yaitu Sutan Ibrahim atau yang sering kita kenal dengan sebutan Tan Malaka. Telah hadir sebagai pembicara Bonnie Triyana seorang sejarawan.

Bonnie mengawali pembicaraannya dengan menyoroti Tan Malaka bukan hanya pikirannya yang menarik, tapi juga kisah hidupnya. Dia berpetualang hampir separuh luas bumi. Dalam usia 20 tahunan dia aktif berpolitik, kemudian berkali-kali mengganti nama, paling tidak ada 23 nama samaran yang pernah digunakannya karena alasan keamanan.

“Kisah hidupnya seperti film detektif, film intelijen atau mata-mata, karena cita-cita dan perjuangan dia. Tapi kita melihat Tan harus lebih kritis,” kata Bonnie.

Bonnie kembali menjelaskan, Tan Malaka lahir mempunyai nama asli Ibrahim. Karena sesuai dengan tradisi Minang, ia memangku adat dengan gelar Datuk. Tradisinya, jika laki-laki beranjak dewasa ia dinobatkan menjadi datuk, dan datuknya bergelar Tan Malaka untuk Ibrahim. Tan lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatra Barat, 2 Juni 1897 dan wafat di Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949.

Bonnie sedikit bercerita, Sarekat Islam pada 1912 dipegang oleh Cokroaminoto sampai 1916. Kemudian diadakan kongres nasional pertama di Bandung, lebih dari 800.000 anggota dari 50 cabang SI (Sarekat Islam) hadir saat itu.

“Di kongres itulah Cokroaminoto pertama kali membentuk sistem organisasi yang otonom dari tiap daerah. Jadi, Sarekat Islam mempunyai afdeling-afdeling, dan kabar baiknya ini merupakan tonggak awal sebuah konsep nasional di dalam Sarekat Islam,” kata Bonnie.

Artinya, Cokroaminoto sudah sejak awal memikirkan konsep untuk menciptakan organisasi Sarekat Islam yang luas. Seperti adanya Sarekat Islam di Samarinda, di Sumatra dan di seluruh kepulauan Hindia Belanda (Indonesia saat itu). Pusatnya ialah CSI ( Central Sarekat Islam).

Di antara seluruh cabang-cabang tersebut, yang paling mencolok dan pesat perkembangannya adalah Sarekat Islam cabang Semarang. Yang memimpin di sana pada waktu itu adalah Samaoen, Alimin dan orang-orang muda yang pindah dari Surabaya yang saat itu menjadi buruh kereta api.

Tan Malaka bergabung di sana (Sarekat Islam Cabang Semarang), dan kemudian dia membangun Sekolah Anak Buruh Sarekat Islam Semarang (1921-1922). Sekolah ini ditujukan untuk mendidik anak-anak buruh.

“Gedungnya masih ada sekarang di kampung Gendong. Kebetulan saya termasuk orang yang ikut menyelamatkan gedungnya karena pernah ada rencana pengahancuran gedung tersebut. Sekolahnya masih ada dan bagus, di sana juga masih ada keramik yang bertuliskan SI,” tegas Bonnie.

Bisa dibayangkan betapa berbahayanya Tan saat itu. Di Filipina Tan buat partai, ke Burma dia buat partai, ke mana-mana ia membuat partai. Dia mengorganisir orang-orang kiri di sana lalu membuat partai untuk melawan Kolonialisme yang menjajah rakyat kecil. Itu tugas Tan sebagai perwakilan Komintern Asia. Karena pekerjaan itulah dia menjadi buron, dikejar-kejar, karena pekerjaan ini sangat berbahaya.

“Tan melanjutkan perjalanannya ke Rawajati, Kalibata tempat di mana ia menulis setat MADILOG. Kemudian Tan mendapat pekerjaan sebagai mandor Tambang Batubara di Bayah, Banten Selatan pada tahun 1943-1945. Tan juga ikut aktif dalam gerakan kemerdekaan dan mendirikan Partai Murba tahun 1948 sebelum akhirnya Tan meninggal tahun 1949. “ini adalah riwayat ringkas kehidupan Tan Malaka,” kata Bonnie.

MADILOG adalah senjata berpikir bagi kaum pekerja, yang di dalamnya diterangkan perlunya ilmu bukti. Persolan pertama yang dibahas adalah menghilangkan logika mistika yang masih berakar kuat dalam pemikiran masyarakat, khususnya di Jawa.

Bagi Tan, inilah penghalang kemajuan yang akan merintangi jalannya revolusi. Dengan MADILOG, Tan ingin memberikan jalan untuk membentuk masyarakat yang rasional. “Sebab, sejarah digunakan sebagai metode berpikir logis, tidak klenik. Pendidikan jangan digunakan hanya untuk kepentingan pasar, tapi di sana mesti dijadikan tempat pembinaan manusia yang berpikir bebas, kritis dan benar-benar menjadi manusia,” kata Bonnie.

Di antara karya-karya yang ditulis Tan Malaka: Parlemen atau Soviet (1920), SI Semarang dan Onderwijs (1921), Dasar Pendidikan (1921), Tunduk Pada Kekuasaan Tapi Tidak Tunduk Pada Kebenaran (1922), Naar de Republiek Indonesia (1925), Semangat Muda (1925), Massa Actie (1926), Local Actie dan National Actie (1926), Pari dan Nasionalisten (1927), Pari dan PKI (1927), Pari International (1927).

Share to Facebook Share to Twitter Share to Google Plus