Belajar dari Agus Salim

Pada Selasa, 7 November 2017, Megawati Instittute mengadakan kelas Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa di Jalan Proklamasi No. 53, Menteng, Jakarta Pusat. Telah hadir Suradi sebagai pemateri, seorang wartawan senior di salah satu surat kabar ternama yang telah menulis buku Haji Agus Salim dan Konflik Politik dalam Sarekat Islam.

Suradi menceritakan sosok Agus Salim yang sangat  sederhana, bersahaja, dan santun. Meskipun perawakannya tidak terlalu besar, pemikirannya jauh melampaui postur dan batas usianya. Agus Salim adalah seorang intelek yang menguasai sembilan bahasa dunia dengan sangat fasih dan memiliki keteladanan yang menginspirasi banyak orang.

Salah satu pemikiran Agus Salim tentang Islam diambil dari pidato-pidatonya ketika berbicara tentang Islam di Universitas Cornell, Amerika Serikat. Pesan-pesan Islam Agus Salim pun pernah diterbitkan oleh Mizan.

Salim diundang oleh Kahin pada tahun 1953 ke Amerika untuk berpidato di Universitas Cornell. Setelah pertemuan di Cornell, sempat berdiskusi dengan pemimpin Vietnam selatan. Yang membuat pemimpin tersebut bingung adalah kecakapan Agus Salim menggunakan bahasa Perancis dengan sangat fasih.

Agus Salim lahir di kota Gadang, pada 8 Oktober 1884. Kalau kita baca tulisan Taufik Abdullah tentang Agus Salim, kita akan tahu bahwa Kota Gadang adalah tempat lahirnya tokoh nasional pada masa Zaman pergerakan pada abad 20 sampai zaman Jepang. Sebut saja Syahrir, Muhammad Hatta dan lain-lain.

Agus Salim memiliki seorang ayah yang berprofesi sebagai Jaksa Tinggi di Riau. Karena profesi ayahnya pulalah, ia memperoleh pendidikan dasar di Europeesche Lagere School (ELS), sekolah khusus anak-anak Eropa, kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik HBS se-Hindia Belanda.

Karena Agus Salim berhasil menjadi lulusan terbaik, maka sosoknya pun dimuat di media  sehingga banyak orang yang mengenalinya termasuk Kartini. Saat itu, Kartini mendengar kabar bahwa Agus Salim sangat berminat untuk melanjutkan jenjang pendidikannya. Banyak usaha yang dilakukan Salim untuk mendapat beasiswa ke Belanda tetapi usaha-usahanya mengalami kegagalan.

Pada saat itu, Kartini mendapat beasiswa percis sama seperti dicita-citakan Agus Salim. Sehingga, Kartini memberikan beasiswa tersebut kepada Salim karena alasan adat dan budaya timur yang belum memberikan keleluasaan terhadap wanita khususnya Kartini untuk pergi jauh. Namun, dengan halus Agus menolak tawaran tersebut karena merasa ini bukan murni dari prestasinya tapi permintaan dari bangsawan.

Menurut Suradi, selanjutnya Agus salim mendapat tawaran dari Snouck Hurgronje untuk menjadi konsul haji di Jeddah dan inilah lompatan bagi Agus Salim. Hal ini didukung oleh keluarganya. Di Jeddah ia bertemu dengan pamannya yang sudah menjadi guru besar di Masjidil Haram yaitu Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. Dari sinilah ia memperdalam Islam.

Kemudian Agus Salim sebagai tokoh politik bergabung di Sarekat Islam. Sebab, ia menganggap ini adalah organisasi pergerakan yang cukup bagus. Salim memiliki kecenderungan pada Sarekat Islam Putih yang dipimpin oleh HOS Cokroaminoto, dan mengkritik SI Merah yang dipimpim Semaoen karena dianggap membahayakan.

“Di dalam perjalanan, karena perpecahan Sarekat Islam Merah dan Putih, Salim memutuskan untuk keluar dari SI dan mendirikan partai penyanda. Ia ingin menyadarkan anggota yang berada di dalam Sarekat Islam,” kata Suradi.

Menurutnya, karena masa pergerakan adalah masa keemasan, yang diperlukan bukan hanya tampil di publik tapi juga di media. Karena itu, Salim pun berprofesi sebagai jurnalis di beberapa media, surat kabar. Menurut Salim, media adalah sarana penyebar gagasan untuk memengaruhi masyarakat dan pemerintah.

Dalam soal keislaman, pemahaman kritis tentang Islam adalah sumber inspirasi, kasih, kesetaraan, keadilan yang membebaskan. Di samping itu, perdebatan tentang poligami pun banyak ia tulis di berbagai media dan pidatonya di Universitas Cornell. Banyak juga tulisan Salim yang di antaranya diawali dengan perdebatan tulisan Soekarno pada tahun 1926 tentang Nasionalisme, Islam dan Marxisme sebagai senjata kemerdekaan kita.

“Sosok Agus Salim adalah sosok yang multitalenta. Selain pemimpin Sarekat Islam, dia juga pemimpin kaum buruh. Pada tahun 20-an, Salim pernah menggantikan Cokroaminoto di Volksraad, kemudian sosoknya adalah tokoh yang teosofi,” kata Suradi.

Share to Facebook Share to Twitter Share to Google Plus