Beberapa Pokok Pikiran dan Pergerakan Sukarno

Pada Selasa, 14 November 2017, Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) Megawati Institute kembali mengadakan kajian pemikiran di Jalan Proklamasi, No. 53, Menteng, Jakarta Pusat. Tema kali ini tentang pemikiran Sukarno yang disampaikan oleh Peter Kasenda, seorang yang telah banyak menulis buku dan meneliti tentang Sukarno.

Pada awal pembicaraannya, Peter mengatakan bahwa jika kita ingin mengenali pikiran-pikiran Sukarno, kita bisa lihat sebagian banyak pikirannya di buku Panca Ajimat Revolusi. Sebab, di dalamnya terdapat ide-ide yang digali dan diformulakan Bung Karno dari kehidupan bersama bangsa Indonesia pada masa kemerdekaan maupun setelah kemerdekaan.

Peter mengatakan, “Paling tidak, ada tiga pikiran yang sering kita kenal dari Bung Karno, yaitu Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme.”  Lalu di samping itu, Sukarno juga sering mengucapkan tentang Pancasila yang di dalamnya berisi tentang Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial dan Ketuhanan yang Berkebudayaan.

Lalu Sukarno juga pernah berbicara tentang USDEK atau Undang-Undang Dasar, Sosialisme, Demokrasi Terpimpin dan Kepribadian yang Berkebudayaan pada tahun 1959 yang selanjutnya berubah nama menjadi GBHN.

Ada tiga pandangan yang dapat kita lihat dari Sukarno. Pertama, Sukarno adalah sebagai politisi. Kedua, Sukarno sebagai Ideolog. Ketiga, ia sebagai “institusi”. Sukarno sebagai politisi atau sebagai pemain politik, memang telah kita ketahui bahwa sebenarnya Sukarno agak sedikit terlambat terjun dalam dunia politik jika dibanding Hatta yang sudah jauh lebih awal berada di dalamnya.

Sesuatu yang menarik, inilah yang nanti kita kenal dengan bangsawan pikiran. Pada 1926, setiap pergerakan di Indonesia dimulai dari gerakan buruh, petani dan kelas-kelas sosial bawah dengan mengedepankan gerakan-gerakan yang bersifat fisik. Namun dari para kaum intelek ini muncul kepercayaan bahwa untuk terlibat dalam dunia politik mereka harus mempunyai basis ilmu pengetahuan yang baik.

Sukarno termasuk orang yang beruntung karena dia mampu menyelesaikan kuliahnya di THS (Technische Hoogeschool te Bandoeng) yang sekarang menjadi ITB (Institut Teknologi Bandung) yang didirikan pada 1920. Hatta, butuh waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan masa studinya ketika di Belanda. Dia harus menempuh waktu masa belajar disana selama duabelas tahun.

Sedangkan Syahrir termasuk orang yang kurang beruntung dalam pendidikannya karena dia harus berhenti di tengah jalan, dan terjun dalam dunia politik. Dari para bangsawan pikiran inilah yang nanti akan muncul gerakan-gerakan nasionalime Indonesia. Dan Sukarno mengambil peran yang sangat berpengaruh dalam dunia politik saat itu.

Lalu, Sukarno sebagai Ideolog. Dalam pengertian ini, Peter menjelaskan bahwa banyak sekali pikiran dan gagasan-gagasan dari Bung Karno yang akhirnya menjadi ideologi bagi para pengikutnya. Misalnya tentang ideologi Marhaenisme dan lain-lain.

Ketiga adalah Sukarno sebagai Institusi. Pada 1960-1965 ada tiga kekuatan politik besar yang bersaing di Indonesia. Yang pertama adalah Militer, kedua adalah PKI, dan ketiga adalah Sukarno. Memang sukarno itu adalah pribadi, tapi dalam konteks ini Sukarno bisa diartikan sebagai institusi.

Peter kembali menjelaskan, ada banyak keberuntungan yang Sukarno dapatkan karena ia menikmati pendidikan kolonial. Pendidikan kolonial itulah yang menyebabkan mobilitas sosialnya menjadi naik, karena dia banyak bergaul dengan banyak lapisan masyarakat.

Dalam sistem pendidikan Belanda itu sendiri ada empat sistem yang berjalan di dalamnya, yaitu sistem pendidikan Eropa, sistem pendidikan Belanda, sistem pendidikan Indonesia dan terakhir sistem pendidikan Daerah.

“Saat itu, orang-orang yang memiliki pendidikan di HBS, rata-rata menguasai empat bahasa. Pertama adalah Belanda, lalu Inggris sebagai bahasa ilmu pengetahuan, Jerman, dan terakhir adalah Prancis yang juga menjadi bahasa ilmu pengetahuan,” kata Peter.

Pada masa itu, sebenarnya yang menjadi bahasa ilmu pengetahuan adalah bahasa Latin, karena siapa pun yang belajar ilmu pengetahuan namun tak menguasai bahasa tersebut, rasanya akan mengalami banyak kesulitan. Sebagai contoh warisan ilmu biologi yang samapai saat ini masih banyak menggunakan istilah-istilah dengan bahasa Latin di dalamnya. Juga bidang ilmu pengetahuan lainnya.

Lalu selanjutnya adalah bahasa Perancis sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Ada sekitar 50 negara yang menggunakan bahasa tersebut sebagai bahasa komunikasi, lebih banyak dari bahasa  Inggris yang hanya digunakan oleh hanya beberapa negara saja saat itu.

Lalu selanjutnya adalah bahasa Indonesia. Sebab, sebagai contoh, Ki Hajar Dewantara juga banyak mengajar dengan menggunakan bahasa nasional, dan dibentuknya taman siswa juga sebenarnya adalah sebagai counter dari dari ideologi-ideologi Barat.

Karna Sukarno bersekolah di lembaga pendidikan Belanda, itu pulalah yang mendorong Sukarno untuk kursus bahasa Belanda. Pasalnya, Sukarno sebenarnya adalah orang sama-sama seperti pribumi  lain yang tidak mengetahui bahasa tersebut sebelumnya. Lalu dari kursus itulah Sukarno mulai mahir berkomunikasi dengan bahasa Belanda, termasuk menulis surat dengan menggunakan bahasa tersebut.

Dari proses pendidikan inilah, Sukarno gemar menulis. Salah satu tulisan bung Karno dengan judul “Indonesia Menggugat” pun menjadi sorotan dari beberapa elite saat itu. Di dalam pidato tersebut Sukarno mendefinisikan Kapitalisme, Imperialisme,dan Kolonialisme. Sebuah kritik terhadap pemerintahan Belanda saat itu sekaligus sebagai pendorong gerakan-gerakan kaum bumiputra.

“Warisan kelam yang agak sulit dihilangkan dari sistem Kolonialime, Imperialisme Belanda terhadap bangsa Indonesia adalah menanamkan hilangnya rasa percaya diri dalam diri setiap rakyat Indonesia (rendah diri/minder). Inilah yang juga sebenarnya ingin Sukarno ubah. Sebab, mental-mental budak justru akan sangat menghambat proses pertumbuhan terutama proses kemerdekaan bangsa Indonesia saat itu,” kata Peter.

Banyak hal yang dilakukan bung Karno untuk membangun kembali terpuruknya mentalitas bangsa ini, salah satunya dengan mengadakan Konferensi Asia Afrika yang dihadiri oleh 29 negara. Ini salah satu usaha Sukarno untuk menyejajarkan bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa lainnya. Lalu Sukarno membangun Tugu Monumen Nasional yang sering kita sebut Monas.

Di luar nilai estetika, Monas didirikan sebagai simbol untuk menggemborkan kembali rasa kebangkitan dan kepercayaan bangsa ini. Karenanya, Sukarno mengatakan dalam “Indonesia  Menggugat”, “Kehilangan pertama kita adalah karakter. Kehilangan yang lain kita bisa perbaiki, tapi kalau kehilangan karakter kia akan sangat sulit.”

Share to Facebook Share to Twitter Share to Google Plus