Jejak Pemikiran Syahrir

Pada Selasa, 29 November 2017, Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) Megawati Institute, kembali mengadakan kajian pemikiran pendiri bangsa. Pertemuan kali ini membahas pemikiran dan pergerakan Sutan Syahrir yang disampaikan Marbawi A. Katon.

Marbawi menceritakan sedikit proses pengamatan generasi pendiri bangsa. Menurutnya, semua relatif bisa terlihat masa pergerakannya. Misalnya generasi HOS Cokroaminoto yang lahir 1880-an, yang beredar pada generasi itu adalah diskusi wacana tentang Indonesia yang lepas dari kolonialisme. Akan tetapi wujud akan Indonesia itu sendiri sebenarnya belum ada. Yang menarik adalah alat dalam menyampaikan segala gagasan itu adalah media cetak.

Kemudian Bung Karno, yang lahir antara tahun 1900-an dan 1911-an. Pada generasi ini, mulai tumbuh alat untuk menyampaikan gagasan dan ide pemikiran selain media cetak. Mereka menggunakan alat komunikasi berupa radio, dan penyampaian gagasan yang dilakukan Bung Karno diakui oleh Syahrir.

“Sjahrir bukan datang dari kelompok proletar murni. Saya percaya bahwa latar belakang sosial seseorang akan memengaruhi jalan pikiran dalam hidupnya,” kata Marbawi. Syahrir datang dari kelompok aristokrat yang tercerahkan. Dia mempunyai rasa empati yang sangat tinggi terhadap masyarakatnya. Syahrir akan merasa sangat tidak nyaman ketika masyarakatnya menderita.

Menurut Marbawi, ciri dari seorang Sjahrir adaah rasionalitas karena, menurut Syahrir, langkah politik itu harus rasional. Jika terlalu emosional, akan berbahaya bagi masyarakat. Rasionalitas cara bertindak Syahrir dan segala hal yang terwujud nyata dalam revolusi nasional tidak banyak mendapat dukungan dari masyarakat.

“Teori bahwa kader yang menentukan jalannya pemerintah tidak cukup kuat untuk bargain politik, tapi bagian politik bisa didapatkan melalui massa dan power,” tegasnya.

Marbawi melanjutkan bahwa sosialisme Syahrir, menurut beberapa tulisan, tidak sama dengan sosialisme ala Lenin. Syahrir mempunyai teori kebangsaan yang mana kebangsaan harus menjunjung tinggi kemanusiaan. Bagi dia, sosialisme tidak seperti diktator proletariat dan bukan nasionalisme cauvinistik, tapi sosialisme humanistik. Sosialisme yang masih menjaga nilai-nilai individualisme, bukan pada makna ekonomi politik.

Bagi Marbawi, Syahrir merupakan orang yang menentang fasisme (analisis atas kekuatan fasis di Eropa), feodalisme, kolonialisme, imperialisme, dan semua itu merupakan hal yang menjadi perhatian dia dan merupakan batu bata pemikiran sosialisme Syahrir.

“Sosialisme yang dia maksud tidak bersifat ideologis tapi merupakan gaya politik sehingga disebut sosialisme demokratik. Karena dia menitikberatkkan pada individu, maka banyak juga yang menyebutnya sosialisme kanan. Semangat sosialismenya sangat humanistik, dan dalam batas tertentu sosialisme yang diterapkan harus menghargai hak individu tapi tidak bertitik pada individualisme,” tegas Marbawi.

Yang kita butuhkan dari pemikiran canggih dan kinerja yang tersisa dari Sjahrir adalah bahwa (1) dia seorang intelektual besar, bukan sebagai politisi yang kita kenal, (2) sosialisme yang diterapkannya masih berkembang jejak-jejaknya. Harus kita Pahami bahwa sosialisme Syahrir bukan menghabisi kapitalisme, akan tetapi “kapitalisme sosial”, (3) konsentrasi pada demokrasi.

Pandangan Syahrir terhadap ekonomi lebih dekat dengan social welfare atau welfare state, bukan menghilangkan kapitalisme sebagai sebuah isme kapital. Ciri walfare state adalah pajak yang tinggi dan perlindugan sosial.

“Saya membayangkan Syahrir wujudnya yaitu welfare state, yang tidak ada kesenjangan terlalu tinggi antara elite dan masyarakat,” kata Marbawi.

Yang harus kita pelajari dari para pendiri bangsa adalah latar belakang tokoh dan jejak ideologi di dalam proses politik dan relevansi untuk saat ini. Jangan jadikan tokoh sebagai terminalitas, jadikan tokoh tersebut sebagai jendela atau pintu untuk masuk alam pikiran mereka terhadap Indonesia yang merupakan bangsa yang dijajah.

“Jika kita menjadikan mereka terminalitas atau final, maka kita akan menjadi Soekarnoisme, Hattaisme atau sebagainya, dan tidak memiliki banyak tafsir dari tokoh-tokoh lainnya,” terang Marbawi.

Share to Facebook Share to Twitter Share to Google Plus