Sekilas Pergerakan Trimurti

Sekolah Pemikiran Pendiri Bangsa (SPPB) kembali mengadakan kelas pemikiran pada Selasa, 14 Desember 2017 di Megawati Institute. Tema kali ini adalah Soerastri Karma Trimurti atau sering dikenal dengan S.K. Trimurti. Materi ini disampaikan oleh Budi Setiyono, salah seorang pendiri majalah Historia.

Berbicara tantang S.K. Trimurti, Budi menjelaskan bahwa dia tidak ingin menyebutkannya sebagai tokoh perempuan saja, akan tetapi lebih dari sekadar itu. Trimurti merupakan seorang guru, wartawan dan penerbit. Dia lahir dari keluarga pamong praja sehingga memperoleh kesempatan yang lebih dari perempuan lain.

Trimurti juga bisa merupakan kelompok feminis. Setelah lulus sekolah menjadi guru, sejak kecil dia merasakan ada perbedaan di masyarakat, sehingga muncul kesadaran politik. Ketika Sukarno berpidato di Purwokerto, muncul kesadaran dia dan memutuskan belajar langsung dengan Sukarno di Bandung. Hal ini membuatnya keluar dari profesinya sebagai guru.

Budi menjelaskan, pada Sukarno, dia belajar menulis dan mengajar di perguruan rakyat. Dia belajar pada Sukarno sekitar satu atau dua tahun. Kemudian Trimurti kembali ke kampungnya dan bersama temannya membentuk organisasi Perempuan Marhaenisme.

“Trimurti juga merupakan tokoh yang mendirikan Gerwis pada tahun 1950 sebuah organisasi perempuan Indonesia yang kemudian berganti nama menjadi Gerwani,” katanya.

Dia juga pernah terlibat dalam organisasi yang lebih besar lagi dari Gerindo yang berdiri pada tahun 1937. Saat itu diketuai oleh Amir Sjarifudin dan dia menjadi salah satu pengurus besar di dalamnya. Pada masa kolonial, dia pernah ditangkap oleh Belanda karena tulisan suaminya Sayuti Melik, yang dianggap sebagai tulisan dari S.K. Trimurti. Pada zaman Jepang, dia pun pernah di tangkap lalu diselamatkan oleh Bung Karno.

Dia juga pernah masuk di beberapa partai, yang pada saat itu belum banyak orang tahu ke mana Trimurti berjalan. Trimurti sadar betul bahwa pergerakan dan perjuangan bisa dilakukan dengan melalui jalur politik dan pers, serta organisasi-organisasi. Karena dengan begitu, dia bisa banyak memperjuangkan segalanya.

“Banyak sekali problematika yang dialami dari berbagai pengalaman yang dialami kaum buruh saat itu misalnya. Karena itu, Trimurti juga banyak memasukkan beberapa pengalaman dari pekerja perempuan ke dalam pasal perundang-undangan. Di antaranya tentang hak perempuan seperti cuti melahirkan, menyusui dan sebagainya,” kata Budi.

Pada zaman Amir Sjarifudin, Trimurti menjadi Menteri tenaga kerja pertama Indonesia di tahun 1947. “Dan di Tahun 1948, dia membuat undang-undang tentang tenaga kerja perempuan yang memuat tentang cuti haid perempuan, dan perempuan yang menyusui. Ini merupakan salah satu pencapaian di masa dia menjadi mentri perburuhan,” tegas Budi.

Share to Facebook Share to Twitter Share to Google Plus