Bung Karno Pemikir Pembaruan Islam

Pada Rabu, 30 Mei 2018, Megawati Institute kembali menggelar Seri Diskusi Ramadan “Bung Karno dan Islam”. Pertemuan kali ini merupakan pertemuan yang kedua, setelah sebelumnya diawali pembahasan mengenai negara versus khilafah dalam pandangan Bung Karno.

Di kesempatan kali ini, hadir sebagai pemateri Sosiolog Neng Dara Affiah dan Pengamat Timur Tengah Novriantoni Kahar yang membahas pandangan Bung Karno tentang Islam dan ilmu pengetahuan.

Neng mengawali proses diskusi ini dengan sedikit menyegarkan kembali ingatan mengenai sosok Bung Karno yang menjadi idola dirinya dan juga menempatkannya sebagai pembaru muslim sekaligus sebagai pejuang. Walaupun misalnya dia sendiri kurang mengerti mengapa sebagian tokoh merasa keberatan jika Bung Karno disandingkan dengan Agus Salim, Natsir dan tokoh-tokoh lain yang kental dengan nuansa keislamannya.

Meski demikian, menurut Neng, dia mempunyai keyakinan dilandasi data-data yang valid bahwa Bung Karno tidak hanya sebagai pemikir utama Pancasila, pahlawan bangsa, atau pendiri negeri. “Jauh di samping itu, dia memiliki label lain yang sebenarnya Bung Karno tidak memiliki kepentingan apa-apa dengan label itu, dan label yang dimaksud adalah bahwa ia sebagai pemikir pembaru Islam,” jelasnya.

Beberapa yang menjadi kritik Bung Karno dari penyebab mundurnya Islam adalah taklid buta. Sebab, taklid merupakan abu dan asap, dia bukan api dari semangat Islam itu sendiri. “Dan yang menjadi ciri muslim menurutnya adalah pintar memeluk ilmu pengetahuan, menciptakan produk-produk teknologi modern dan harus berorientasi pada kemajuan,” terang Neng.

Sementara itu, dalam pandangan Novriantoni, sebenarnya Bung Karno menempatkan agama sebagai service revolution. Dia menempatkannya juga sebagai pengabdi gelora revolusi. Karena itu, banyak sekali kritik-kritik yang Bung Karno berikan kepada kalangan tradisional. Tradisional yang dimaksud adalah tentang umat yang tertutup, tidak mau terbuka terhadap ilmu pengetahuan, sains, dan teknologi yang terus berkembang.

Menurut Novriantoni, dilihat akhir-akhir hayat Bung Karno, Bung Karno sebenarnya menginginkan sebuah sintesis. Dia telah memiliki tesis dalam pikirannya, dan tesis di dalamnya menyatakan bahwa dia adalah seorang “Kiri”, antitesisnya adalah Islam, dan dia ingin membuat sintesis tentang kemanusiaan.

“Sementara tesis dalam pikiran Bung Karno adalah materialisme historis. Dia dalam melihat dunia berdasarkan analisis yang detail terhadap infrastruktur kehidupan sosial, politik, ekonomi. Berbeda dari agama yang lebih dominan kepada soal-soal yang bersifat suprastrukturnya dan ideologinya saja,” kata Novriantoni.

Karena itu, menurut Novriantoni, dia memandang bahwa agama itu tidak hanya dilihat dari sisi Alquran dan hadisnya saja. Tapi juga dilihat dari aspek sosiologinya, antropologinya, arkeologinya, dan sejarah itu merupakan yang dianjurkan oleh Bung Karno.

Share to Facebook Share to Twitter Share to Google Plus