Radikalisme Terus Eksis Jika Digunakan untuk Berpolitik

Bisnis.com, JAKARTA — Wacana deradikalisasi di masyarakat hanya mungkin terjadi jika radikalisme tidak disalahgunakan untuk kepentingan politik.

Cendekiawan muslim Azyumardi Azra mengatakan saat ini posisi Pancasila sebagai dasar negara mendapat tantangan serius. Terutama dari paham dan ideologi transnasional yang menyebarkan agama radikal.

Azra menegaskan Indonesia bukanlah lahan yang subur untuk paham radikal. Namun, paham radikal bisa subur di Indonesia kalau terkait dengan politik.

"Kelompok radikal itu ideologi dari luar. Semua orientasinya keluar. Jadi agak aneh," kata Azyumardi di Megawati Institute dalam diskusi buku 'Islam, Pancasila, dan Deradikalisasi' Senin, (5/11/2018).

Misalnya saja seperti demo-demo yang sebelumnya terjadi menurut Azyumardi hal ini dipelihara untuk kepentingan politik.

Azyumardi juga nenyinggung bentrok oknum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dan oknum Banser NU di Garut, Jawa Barat, yang berakhir dengan pembakaran bendera tauhid.

"Selama ini dipelihara, merestui, paham radikal, itu kan aneh. Kalau Anda setia pada Pancasila kok anda jaga bergerak bebas. Kasus di Garut yang disalahkan Pemuda Ansornya," terang Azyumardi.

Azyumardi menekankan bahwa yang dibakar bukankah bendera tauhid. Sebaliknya, itu bendera dengan representasi politik, namun lambang itu masih bisa diubah.

"Penguatan Islam harus kuat membangun narasi jadi tidak diputarbalikkan. Jadi supaya tidak dengan mudah dibalikkan," kata Azyumardi.

Share to Facebook Share to Twitter Share to Google Plus